Vintage Tumblr Themes
of geekandnerd.

Malaysian | Muslim | Nineteen
a lover and a fighter

Don't hate me until 
I give you a reason to, 
don't judge me until you 
know the whole story | 
 I LIVE FOR THE MOMENTS YOU 
CAN'T PUT INTO WORDS.
Life is too short to follow 
someone else's path.






1/16 »


“Jangan berkecil hati dengan teguran orang. Jika kita berkecil hati dengan teguran orang, sebenarnya kita telah berkecil hati dengan Allah. Kerana apabila seseorang itu menegur kita, sebenarnya Allah yang menegur kita, MELALUI ORANG ITU.
Jadi kalau kita dimarahi atau ditegur, bersyukurlah kerana DIA masih sudi mengingatkan kita disaat masih ramai yang tak terpilih untuk ditegur olehNYA.
Layakkah kita hamba yg hina ini utk main merajuk-rajuk dengan Tuhan yang Maha Agung lagi Maha Esa, padahal apa yang DIA takdirkan semuanya kerana kasih sayangNYA untuk kita.”

Peringatan ini terlebih dahulu untuk saya.

Malunya rasa diri bila TER-kecil hati. 

Muhasabah diri lah selalu.

(via adamdanhawa)

(via tersenyum-melihat-langit)



superzupper:

Kisah paling romantis di dunia :”)

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

(Source: defildaily.multiply.com, via tersenyum-melihat-langit)



Gembirakanlah saudaramu„ kalau engkau tidak bisa menghadirkan kegembiraan kepada saudaramu, janganlah engkau melakukan hal-hal yang menyakitinya..

-Hasan Al banna-


Gembirakanlah saudaramu„ kalau engkau tidak bisa menghadirkan kegembiraan kepada saudaramu, janganlah engkau melakukan hal-hal yang menyakitinya..
(via dorarinami)

(via tersenyum-melihat-langit)



Surat yang tak pernah dikirim.

sederhanaindah:

Kehadapan awak,

Saya menulis di sini kerana saya adalah lelaki yang tak mampu untuk berhadapan dengan awak. Saya menulis kerana saya ialah lelaki yang kehilangan suara jika berhadapan dengan awak. Saya menulis kerana saya tidak mampu untuk mengucapkan ‘saya cintakan awak’ tanpa saya akan gagap dan pengsan sesudah itu.

Kerana ucapan ‘aku cinta padamu’ atau ‘saya cintakan awak’ itu ialah ucapan yang berat dan penuh mendalam. Dan ucapan itu ialah ucapan yang hanya wujud pengucapannya dalam dunia drama atau novel sahaja. Kerana bahasa tulisan dan bahasa pengucapan sebenar-benarnya adalah bahasa yang berbeza.

Juga saya menulis kerana untuk menceritakan apa yang saya rasa kepada awak tanpa mampu untuk menatap mata awak adalah mustahil. Dan tanpa memandang ke wajah serta mata awak, mungkin awak tak akan mempercayai segala apa yang saya perkatakan.

Saya cintakan awak. Sungguh saya mahu menemani dan ditemani awak. Dan sungguh saya mahu menjadi lelaki yang membahagiakan awak.

Awak pasti tertanya. Sejak bila. Kenapa. Mengapa. Bagaimana. Dan saya sedia maklum disebalik cinta itu punya beribu soalan yang mengiringinya. Tapi satu yang saya pasti iaitu tak pernah ada sebab disebalik sesuatu cinta. Kerana cinta itu walau beribu ahli falsafah dan beratus penyair cuba memberi makna yang setepatnya, akan tumpullah falsafah dan cacatla h syair mereka. Kerana cinta itu datang dengan ketentuan bukan pilihan atau permintaan.

Sejak bila ya. Saya pun tak pasti apa jawapannya. Tapi satu perkara yang saya pasti iaitu kita tidak pernah terlalu awak atau terlalu lewat untuk jatuh cinta. Cinta itu boleh saja muncul tanpa kita sedari kerana Tuhan yang bertanggungjawab mencampak rasa itu kedalam hati kita.

Kenapa, bagaimana dan mengapa, saya kira tak perlu saya jawab kerana jika ada jawapan pastinya jawapan itu akan ada unsur ketidakjujuran dan tokok tambah. Kerana manusia, sifatnya inginkan pujian dan kata-kata manis. Lalu manusia yang mengagumi manusia lain akan sedaya upaya menuturkan kata-kata indah agar dapat menawan manusia yang dikaguminya. Saya tak mahu begitu. maka biarlah cinta saya kepada awak tidak bersebab.

Saya dapat tahu bahawa awak telah dimiliki. Saya tersenyum saja mendengar khabar itu. Awak, kita tak layak memilki sesiapa kerana kita hanyalah hamba. Dan kita semua adalah milik-Nya. Tapi sungguhpun awak dimiliki, saya tetap akan menunggu awak. Sampai awak bernikah dan bersanding di atas pelamin. Sesudah saya pasti semua itu, barulah saya akan buka hati saya untuk orang lain. Ramai yang kata saya bodoh. Tapi saya rasa mereka semua pengecut. Kerana bagi saya keberanian itu ialah melakukan sesuatu yang pengecut akan kata bodoh. Macam yang sedang saya lakukan. Saya tahu jodoh pertemuan ditentukan Tuhan. Tapi selagi Tuhan belum menemukan saya dengan jodoh itu, saya akan terus berdoa dan mengharap awaklah jodoh yang dikirim Tuhan untuk saya.

Saya tak layak memiliki awak. Cuma kalau diberi peluang, saya akan menemani awak. Sampai akhir hayat. Bersama mencari redha-Nya. Beriringan ke syurga. InsyaAllah.

Mengapa saya sanggup berkorban? Menutup hati untuk orang lain kerana awak? Kerana bagi saya, hadiah yang terbaik untuk diberikan kepada orang yang tersayang adalah pengorbanan. Dan bercakap tentang pengorbanan, awak mahu dengar cerita? Ada cerita berkenaan seorang sufi. Begini, suatu hari, ada seorang perempuan terkentut dengan kuat dihadapan seorang lelaki. Perempuan itu menjadi malu atas ketidaksengajaannya itu. Tahu apa lelaki itu buat? Lelaki itu berpura-pura menjadi pekak dan bisu, untuk menjaga maruah perempuan tersebut. Dan lelaki itu berpura-pura menjadi pekak dan bisu bukan hanya pada hari itu tetapi hingga perempuan itu meninggal dunia!

Ada sebuah lagi kisah dimana dua kekasih saling mencintai. Suatu hari lelaki itu kehilangan kekasihnya. Namun pada hari kekasihnya meninggal, sebelah mata lelaki itu tidak mengalirkan air mata. Lalu lelaki itu menutup sebelah matanya hingga dia meninggal dunia sebagai hukuman kerana tidak mengalir air mata!

Awak, saya tak layak bercakap soal pengorbanan jika awak hendak bandingkan saya dengan kedua-dua lelaki itu. Malah saya tak layak bercakap soal cinta pun. Namun jika saya diberi peluang, saya akan menjadi, cuba menjadi lelaki yang lebih baik dari kedua lelaki tersebut.

Awak, cinta itu penyakit dan ubatnya adalah perkahwinan. Saya berdoa agar Tuhan memelihara rasa ini, dan jika diizinkan-Nya, saya akan mengikat awak dengan perkahwinan. Kerana cinta sebelum kahwin banyak maksiatnya. Kerana itu saya ingin berjalan dihadapan awak dan memimpin awak sebagai seorang suami, di mana ada keberkatan dari-Nya bukan memimpin dan berjalan dihadapan awak sebagai sepasang kekasih di mana ada kemurkaan dari-Nya.

Mungkin ini ialah penghujung kepada surat ini. Dan surat ini tidak datang dengan rayuan mahupun pujukan. Saya tidak menulis surat ini untuk menjual rasa saya dan membeli rasa awak. Surat ini datang dengan penuh hormat, sekadar pernyataan terhadap sesuatu yang awak mungkin tak pernah sedari.

Maaf kerana menulis surat ini. Apa pun Tuhanlah yang memberi ilham dan menggerakkan naluri.

Eternal happiness. With you. Guide you. Protect you. Make you smile. Walk with you. To Jannah. Be on your side. Be your wonderwall. Come hell or high water. InsyaAllah. May Allah bless.

Ikhlas,

saya yang mencintai awak.

;’) beruntunglah ‘awak’ itu.




“Saat Allah swt mencintai seseorang, tempat pertama sentuhan cinta itu ialah HATI mereka. Disitulah Allah melenyapkan segala rasa putus asa dan kesedihan akibat dosa mereka, kemudian digantikan dengan harapan dan keinginan untuk berubah menjadi insan yang bersih. hati kita seolah berbisik,”

Saat Allah swt mencintai seseorang, tempat pertama sentuhan cinta itu ialah HATI mereka. Disitulah Allah melenyapkan segala rasa putus asa dan kesedihan akibat dosa mereka, kemudian digantikan dengan harapan dan keinginan untuk berubah menjadi insan yang bersih. hati kita seolah berbisik,

“Aku tahu bila Allah mencintaiku iaitu saat aku membenci segala kejahatanku”

(via hearttalking)

(Source: platoniclovetalking, via tersenyum-melihat-langit)


waaaaaaaaaaaghh. nak jugak bunya tomeeii mcm nii T.T

waaaaaaaaaaaghh. nak jugak bunya tomeeii mcm nii T.T

(Source: dandzelia, via cococoda)



cococoda:

Perancangan Allah itulah yg terbaik~ :)

cococoda:

Perancangan Allah itulah yg terbaik~ :)

(Source: aishaardini)




“I choose to love U in silence
for in silence I find no rejection..
I choose to love U in loneliness
for in loneliness no one owns U but me..
I choose to adore U from a distance
for distance will shield me from pain..
I choose to hold U in my dreams
for in my dreams,U have no end..
BUT the truth is I prefer to leave you because of Allah
Because Allah will take care of you better than me :)”

Believe in SOULMATE (via cococoda)

(via tersenyum-melihat-langit)


a muslimah, proud of it and praacticing it right. improving. inshaAllah

a muslimah, proud of it and praacticing it right. improving. inshaAllah

(Source: classicalife, via religiousstuff)



cococoda:

I love you so much , Ya Allah ! I love how You can read my heart and You always give me strength when I was weak  :”(

cococoda:

I love you so much , Ya Allah ! I love how You can read my heart and You always give me strength when I was weak :”(

(Source: allahthemerciful)



:)

:)

(via cococoda)



(via tersenyum-melihat-langit)



imaginotransference:

You: Nothing lasts forever.  Syafiee: Nothing IN THIS WORLD lasts forever.

imaginotransference:

You: Nothing lasts forever.
Syafiee: Nothing IN THIS WORLD lasts forever.

(via tersenyum-melihat-langit)




Pada usia kamu yang bertambah,
Disaat sahabat lain diraikan oleh seorang lelaki ajnabi,
Kamu masih bersendiri meraikan hari jadi…

Disaat sahabat lain ditemani kekasih hati,
Kamu hanya ditemani rakan rakan..

Disaat teman sebilik mendapat kejutan dari teman lelaki,
Kamu menjalani hari jadi tanpa sebarang surprise dan kejutan.
Tanpa mawar merah, tanpa kata - kata “i love you” , tanpa coklat, tanpa patung beruang.

Pada usia kamu yang bertambah,
Saat teman - teman risau mencari.
Kamu tetap tenang menanti.

Saat teman - teman bimbang mengharungi perhubungan,
Kamu masih sabar mengharungi kehidupan bersendiri.

Pada usia kamu yang bertambah.
Kamu semakin kuat dalam pengharapan.
Kamu semakin teguh dalam penantian.
Berkongsi keluh kesah mu bukan pada lelaki tapi pada Ilahi…
Bercerita tentang pengharapan bukan pada kekasih tapi pada Rabbi…

Pada usia kamu yang bertambah.
Kamu semakin yakin.
Bahawa penantian adalah ujian, dan perjalanan adalah pengalaman.
Bersungguh dan semakin teguh dalam istikarah cintamu.
Menanti DIA mngutuskan seseorang.
Mengharap DIA menunjukkan jalan.
Selamat hari lahir.


(via tersenyum-melihat-langit)

(via tersenyum-melihat-langit)



“Whenever Allah gives a blessing to a servant, and then takes it back from him, and the servant patiently endures his loss, then He rewards him with a blessing which is better than the one which He took back.”

Umar ibn Abdal-Aziz (via whatpath)

(via tersenyum-melihat-langit)